Apakah Ahtisari Berhak Mendapat Nobel Perdamaian?

Translation Note: The Indonesian version of this content is being displayed because the English translation is unavailable.
Dalam beberapa bulan terakhir, Aceh kembali menjadi sorotan dunia. Pertama karena kembalinya Hasan Tiro, tokoh legendaris perjuangan kemerdekaan Aceh ke kampung halamannya. Yang kedua adalah penganugerahan hadiah Nobel kepada Martti Ahtisari, mediator proses perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM yang menghasilkan MoU Helsinski tahun 2005 yang lalu. Kehadiran Hasan Tiro dinilai banyak pihak sebagai hal yang positif.Terlebih karena dalam pesan yang disampaikannya, tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjuangan GAM ini menyiratkan dukungan penuhnya pada proses perdamaian yang telah berlangsung di Aceh. Terpilihnya Ahtisari sebagai penerima hadiah Nobel ini juga menggambarkan bagaimana proses perdamaian di Aceh menjadi inspirasi bagi dunia internasional. Namun ada yang menarik sehubungan dengan penganugerahan hadiah Nobel ini. Kishore Mahbubani, dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura berkomentar bahwa hadiah nobel tersebut lebih berhak untuk diberikan kepada Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK). Mahbubani lebih lanjut menambahkan bahwa  para anggota komite hadiah Nobel menjadi tahanan masa lalu. Sebab para anggota komite berasumsi bahwa mereka hidup di era dominasi Barat dalam sejarah dunia. Pendapat Mahbubani dapat dimengerti apabila kita melihat dari sudut pandangnya yang percaya kepada kekuatan “timur”, diantaranya lewat bukunya “ The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Power to the East”. Pandangannya tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam kasus perundingan damai Aceh. Pesannya cukup jelas,bahwa hasil positif proses perdamaian ini sangat dipengaruhi oleh peran pemimpin Negara Indonesia. Terjadinya perundingan ini tidak seharusnya dilihat sebagai konflik di negara berkembang di Asia, dimana kemudian seorang dari salah satu negara “barat” masuk untuk mendamaikan dan menjadi pahlawan.  Namun keterlibatan aktif dari pemimpin negara yang sedang berkonflik tersebutlah yang sebenarnya menjadi kunci perdamaian. Bagaimanakah sebenarnya peran Ahtisari dalam proses perdamaian Aceh tersebut? Apakah benar yang dinilai oleh Mahbubani bahwa SBY dan JK lah yang lebih pantas diberikan anugerah Nobel?

 

Resources: 

Warning: Duplicate entry '308982' for key 1 query: INSERT INTO crc_watchdog (uid, type, message, variables, severity, link, location, referer, hostname, timestamp) VALUES (0, 'php', '%message in %file on line %line.', 'a:4:{s:6:\"%error\";s:12:\"user warning\";s:8:\"%message\";s:454:\"Table './ceric_fisip_ui_ac_id/crc_accesslog' is marked as crashed and should be repaired\nquery: INSERT INTO crc_accesslog (title, path, url, hostname, uid, sid, timer, timestamp) values('Apakah Ahtisari Berhak Mendapat Nobel Perdamaian? | Center for Research on Intergroup Relation and Conflict Resolution', 'node/65', '', '54.156.93.60', 0, '078ba2ac5f855079e59085e1c79fdb86', 176, 1506436319)\";s:5:\"%file\";s:75:\"/home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/modules/statistics/statistics.module\";s:5:\"%line\";i:63;}' in /home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/includes/database.mysql.inc on line 135