Berita Terbaru

Rabu, March 28, 2012 - 14:56
by Joseph Mayton 27 March 2012 Nasik, India - It is the day after Holi, the Hindu festival of colours celebrating the Spring season and a good harvest. Coloured powder from the previous day’s events still adorns downtown Nasik, a city of 1.5 million about three and a half hours east of Mumbai. A group of youngsters, all dressed in traditional Indian long shirts and trousers, are working hard to collect the rubbish left over from the celebration, placing it in black plastic bags which they haul to a nearby truck. The women are wearing a more traditional outfit – pants and a long shirt, or shalwar kameez, which reaches down to their knees. Across the street, a young boy yells out for Aisha and a young girl turns and waves back. From my years in the Middle East, I know that Aisha is predominantly a Muslim name. As I investigate further through conversations, I learn that this group of young people is a mix of Muslims and Hindus. They all celebrated the festival...Selengkapnya
Rabu, March 28, 2012 - 14:55
by Mubashir Khan 27 March 2012 London - Can love really bring people together, crossing boundaries and breaking down barriers? It sounds like the stuff of fairy tales and movies, but recently in a little corner of London that’s exactly what happened. In a trendy Indian restaurant that used to be a pub, people of different faiths and backgrounds got together for a meal to celebrate that crazy little thing called love. The event was organised by the Islamic Society of Britain in partnership with the Christian Muslim Forum to launch the start of the 19th Islam Awareness Week, which ran from 12-18 March 2012. Every year for the past 19 years, Islam Awareness Week has been an opportunity for people across Great Britain to meet, eat, listen and understand each other better. Organisers of the week pick a theme that is of common interest to people of all faiths, such as looking after our neighbours, celebrating the best of Britain or remembering our common heritage. This...Selengkapnya
Rabu, March 28, 2012 - 14:54
by Nada Akl 27 March 2012 Beirut - On 6 March micro-blogging service Twitter announced the launch of its Arabic, Farsi, Hebrew and Urdu versions. It all started with the grassroots #LetsTweetInArabic campaign by a handful of users who wanted Twitter to be available in more languages. While many communities are still disadvantaged when it comes to digital resources, translation initiatives like these are a great first step in making the web a more democratic space, especially for non-English speakers. With these four new additions, Twitter is available in a total of 28 languages. On its blog, Twitter representatives said that right-to-left languages posed a “unique” technical challenge that was overcome by its engineers. The translation itself was made possible thanks to the participation of over 13,000 volunteers who helped translate Twitter’s menu options and support pages. The company explained that those who donated their time and skills are a diverse...Selengkapnya
Rabu, March 28, 2012 - 14:52
by David Cortright 27 March 2012 Notre Dame, Indiana - The Obama administration is under mounting pressure to accelerate the withdrawal of US troops from Afghanistan. The US-led coalition plans to hand over security responsibility to Afghan forces by 2014. The military withdrawal shouldn’t mean that the international community walks away from Afghanistan entirely, however, or ceases support to local civil society –especially when it comes to preserving the hard-won rights of Afghan women. How is this possible? To search for answers, my colleague at Notre Dame University’s Kroc Institute for International Peace Studies Sarah Smiles Persinger and I authored the report Afghan Women Speak, based on dozens of interviews in Afghanistan with female parliamentarians, activists, researchers, health workers and NGO leaders. This past October I visited Kabul to assess the latest developments. All the women we interviewed said they want the war to end. They cannot...Selengkapnya
Rabu, March 28, 2012 - 14:50
by Sahar Namazikhah 27 March 2012 Washington, DC - Iranians and Israelis should mark 14 March 2012 on their calendars – it is the day that the "Israel loves Iran" campaign began to unify the voices of Israelis and Iranians through the path of peace, despite the messages of war that political leaders have conveyed. Since last week, inspired by Israeli graphic designer and teacher Ronny Edri’s "Israel loves Iran" campaign, Iranians as well as members of other nations have reframed the narrative of war to one of a “love bomb”. Edri designed posters that read “Iranians: We will never bomb your country. We [heart] you.” And Iranians responded in kind. This messaging is changing nightmares of war into hope that there will be solidarity between the people of Iran and Israel – creating a movement to wipe out fear, instead of each other. The unique characteristic of this campaign is how ordinary people have...Selengkapnya
Senin, March 26, 2012 - 14:56
oleh Ariel Katz 23 Maret 2012 Brighton, Inggris –Ketika naik angkutan umum, kita sedang bergerak tetapi sekaligus tidak bisa ke mana-mana. Sebagai orang Amerika yang bepergian di Israel, kali ini saya mulai menggunakan waktu untuk bisa ke mana-mana – untuk mengerti lebih banyak tentang orang-orang yang tinggal di sana alih-alih mempercayai berbagai stereotipe. Naik bus dari Eilat ke Tel Aviv bulan lalu, seorang tentara muda berseragam duduk di bangku sebelah saya. Saya bertanya padanya di mana ia bertugas. Ia bimbang dan mengatakan kalau ia tidak bisa memberi tahu saya karena itu sangat rahasia. Kalau ditulis ini terkesan menggelikan, seolah-olah ia ingin berpura-pura menjadi mata-mata, namun secara pribadi hal itu dikatakan begitu sopan dan santai saja, saya percaya padanya. Ia masih kelihatan seperti bocah, muda tetapi dewasa, menyenangkan dan arif. Ia mengenakan topi baret merah yang dengan rapi diselipkan di tanda pundak seragam tentaranya, yang memiliki...Selengkapnya
Senin, March 26, 2012 - 14:55
oleh Ramakant Vempati dan Justin Sykes 23 Maret 2012 Doha, Qatar – Dunia Arab sekarang dihuni oleh jutaan anak muda yang berharap, berencana dan berhasrat untuk bekerja. Dengan adanya lebih dari 100 juta anak muda yang berumur antara 15 dan 29, yang mewakili 30 persen total penduduk, kawasan ini menghadapi “ledakan anak muda” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kenyataan ini telah membawa banyak tantangan soal pengangguran anak muda – namun ini juga bisa dipandang sebagai kesempatan untuk mendorong perubahan positif yang digerakkan anak muda, yang menggunakan jejaring sosial dan teknologi untuk memberi pengaruh yang sangat diperlukan. Kini, tidak ada cukup pekerjaan untuk anak muda yang memasuki pasar kerja di kawasan. Pekerjaan sektor publik bukan lagi sebuah jaminan bagi para lulusan, dan sektor swasta tidak bisa tumbuh dengan cepat. Misalnya, di Mesir, 600.000 anak muda masuk bursa kerja setiap tahunnya, namun hanya sekitar 250,000 yang...Selengkapnya
Senin, March 26, 2012 - 14:53
oleh Jens Juul Petersen 23 Maret 2012 Beirut, Lebanon – Para pemain sepakbola Muslimah kini bersuka cita dengan keputusan Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) baru-baru ini yang mengizinkan mereka untuk mencoba memakai jilbab yang dirancang khusus. Keputusan ini akan ditinjau ulang setelah masa ujicoba selama empat bulan. FIFA telah melarang jilbab sejak 2007, namun keputusan baru ini, yang didesak oleh PBB, mudah-mudahan akan membuat lebih banyak lagi perempuan di seluruh dunia untuk ambil bagian dalam permainan ini. Dalam sebuah pertandingan kualifikasi Olimpiade baru-baru ini, FIFA melarang tim sepakbola perempuan Iran bertanding melawan timnas Yordania karena para pemainnya menolak untuk melepas jilbab mereka. Jilbab, yang menutupi rambut para pemain, melanggar aturan ketat FIFA soal busana, yang telah secara resmi diterapkan untuk berbagai alasan keamanan. Karena tidak ada laporan tentang luka yang bisa diakibatkan jilbab, dan jilbab juga sudah...Selengkapnya
Senin, March 26, 2012 - 14:51
oleh Khalid Al-Badawi, Muhammad al-Taip and Mohannad Awn 23 Maret 2012 Tripoli, Libya – Sebagai warga asli Tripoli yang berusia kurang lebih seperempat abad, kami termasuk dari generasi kedua orang Libya yang tidak mengenal penguasa selain Muammar Qaddafi. Ketika rezim Qaddafi terguling, dunia melihat para pemberontak berebut kendali di jalan-jalan – sementara kami merasakan kekacauan dalam jiwa kami. Sejak hari-hari traumatis itu kami, seperti halnya banyak teman kami, telah memikirkan kembali identitas dan tujuan hidup kami. Setelah tumbangnya rezim, kami mulai memimpikan Libya yang dinamis dan merdeka, maju secepat kilat untuk mengejar ketertinggalan dari dunia selama beberapa dasawarsa. Namun, apa yang bisa kami lakukan untuk membantu mimpi ini menjadi kenyataan? Kami merasa bahwa yang rakyat Libya paling butuhkan adalah pendidikan dan inspirasi – dan cara yang paling efektif untuk mewujudkan ini adalah melalui media penyiaran. Kami memutuskan untuk...Selengkapnya
Senin, March 26, 2012 - 14:49
oleh Barbara Slavin 23 Maret 2012 Washington, AS – Setelah beberapa bulan terjadi saling adu gertak perang antara Iran, Israel dan Amerika Serikat, tampaknya mulai ada rihat bersamayang menggembirakan. Sejak Presiden Barack Obama berpidato di hadapan Komite Urusan Publik Amerika Israel (AIPAC) pada 4 Maret lalu, semua pihak telah menekankan cara-cara non-militer untuk mencoba menyelesaikan krisis soal program nuklir Iran. Kendati menegaskan bahwa ia bertekad mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, dalam pidatonya Obama banyak mengecam apa yang ia sebut “omongan sembrono” tentang perang. Ia bicara secara fasih tentang ongkos yang harus dibayar untuk konflik militer oleh sebuah negara yang telah melancarkan dua perang dalam sepuluh tahun terakhir. Pesannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah berkunjung cukup jelas: saya tidak akan memulai perang lain dan Anda tidak bisa menyeret saya ke satu perang lagi. Netanyahu sendiri tampak...Selengkapnya
Senin, March 19, 2012 - 12:59
oleh Emmanuelle Hazan 16 Maret 2012 Jenewa, Swiss – Dr. Raz Somech ialah salah satu tokoh utama dalam film dokumenter yang sangat mengharukan, Precious Lifeyang menjadi nominasi Anugerah Akademi (Academy Award) pada 2011 dan menjadi sebuah citra harapan yang kuat dalam konflik Israel-Palestina. Pada 2008, bayi empat bulan dari Gaza, Mohammed Abu Mustafa, dibawa ke unit anak yang dikepalai Dr. Somech di sebuah rumah sakit besar di Tel Aviv. Sang bayi menderita suatu penyakit genetik dan membutuhkan cangkok sumsung tulang. Inilah awal sebuah cerita yang bernuansa politik tetapi sekaligus sangat manusiawi. Dalam filmPrecious Life, kita berjumpa Raida, ibu Mohammed, yang di awal kisah ini berharap anaknya kelak akan menjadi seorang syahid. Film ini juga mengisahkan Shlomi Eldar, jurnalis televisi Israel yang memimpin kampanye untuk menggalang dana yang dibutuhkan bagi pencangkokan ini, yang juga menjadi pengarah film ini, meskipun ia ragu apakah tepat untuk melibatkan...Selengkapnya
Senin, March 19, 2012 - 12:55
oleh Natalia Simanovsky 16 Maret 2012 Tel Aviv, Israel – Bulan lalu, Menteri Urusan Komunitas dan Pemerintah Daerah Inggris, Eric Pickles,menggambarkan multikulturalisme sebagai “politik perpecahan”. Ia mengkritik pemerintahan-pemerintahan Inggris terdahulu karena membiarkan berbagai komunitas hidup secara terpisah-pisah dan tidak mendorong integrasi mereka dengan masyarakat Inggris arus utama. Saat Inggris dan negara-negara Eropa bergelut dengan bagaimana mengintegrasikan kalangan minoritas, termasuk komunitas Muslim, penting untuk melihat Kanada sebagai sebuah contoh sukses. Di Kanada, multikulturalisme dianggap oleh mayoritas masyarakat sebagai kebijakan pemerintah yang berhasil karena bisa mendorong – salah satunya – persatuan nasional. Untuk sebagian besar, multikulturalisme di Kanada menumbuhkan ikatan sosial dengan menempatkan semua budaya pada posisi setara. Multikulturalisme di sana menciptakan nilai-nilai bersama, seperti toleransi...Selengkapnya
Senin, March 19, 2012 - 12:53
oleh Dr. Julie Macfarlane 16 Maret 2012 Kingsville, Ontario – Belum lama ini, DPR Florida meloloskan sebuah rancangan undang-undang (yang kemudian terhenti di Senat Florida) untuk melarang penggunaan “hukum asing” dalam persidangan masalah keluarga. Undang-undang semacam ini boleh jadi tampak tidak berbahaya, namun menurut Miami Herald, berbagai pamflet telah beredar di gedung Senat yang menggambarkan syariat Islam – yang menjadi bagian dari kewajiban personal sukarel – sebagai “ancaman Islam radikal terhadap Konstitusi AS”. Saya melihat sikap yang juga tidak berdasar dalam reaksi sebagian teman-teman saya terhadap penelitian kualitatif yang saya lakukan tentang pernikahan dan perceraian secara Islam di Amerika Utara. Tanggapan mereka sering kali adalah pertanyaan dengan nada terkejut, “Apa ada perceraian dalam Islam?” Ketika saya menjelaskan bahwa meski para perempuan diperlakukan secara berbeda dari laki-laki (yang...Selengkapnya
Senin, March 19, 2012 - 12:51
oleh Dawoud Abu Lebdeh 16 Maret 2012 Yerusalem – Sudah setahun gelombang revolusi menggulingkan para penguasa Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman satu per satu. Di Suriah, puluhan orang meninggal setiap hari karena berharap bisa mencapai tujuan yang sama, yaitu kebebasan dan martabat di bawah sebuah rezim demokratis. Banyak orang Palestina kini penasaran apa dampak perkembangan setahun terakhir di dunia Arab terhadap perjuangan kemerdekaan mereka sendiri. Setelah perang Arab-Israel 1967, yang menandai bubarnya identitas pan-Arab, banyak orang Palestina mulai merasa kalau perjuangan mereka merupakan perjuangan mereka sendiri saja. Sebuah jajak pendapat baru-baru ini yang diadakan oleh Palestinian Center for Public Opinion (PCPO) menunjukkan bahwa pandangan orang Palestina tentang bagaimana perjuangan mereka dilihat oleh dunia Arab, tidaklah berubah. Sebagian besar (65 persen) responden yang disurvei merasa bahwa Musim Semi Arab akan berdampak negatif pada perjuangan...Selengkapnya
Rabu, March 14, 2012 - 14:50
Oleh Mustafa Abdelhalim 09 Maret 2012 Kairo, Mesir – Belakangan ini, para tokoh al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir telah berulang kali menyerukan perlunya sebuah pemerintahan koalisi baru, yang akan merepresentasikan semua pihak yang ada di parlemen. Bisakah Mesir mendapat keuntungan dengan mengadopsi konsep pemerintahan koalisi? Jawabannya, saya kira, ya. Membangun sebuah koalisi berarti mengajak berbagai pihak yang akan saling beroposisi untuk berbagi kekuasaan dan tanggung jawab. Beberapa negara Eropa dan Turki menggunakan model ini. Lalu mengapa Mesir tidak? Iklim politik di Mesir pascarevolusi memperlihatkan bahwa negara ini tengah memerlukan bergabungnya partai-partai untuk berbagi kekuasaan dan tanggung jawab. Partai-partai politik Islam, yang mengupayakan peran formal ide-ide keislaman dalam sistem politik, menang cukup telak dalam pemilu Mesir yang digelar November sampai Januari lalu, dan karenanya memperoleh mayoritas-mengambang di parlemen yang baru saja...Selengkapnya
Rabu, March 14, 2012 - 14:48
oleh Marium Sattar 09 Maret 2012 London, Inggris – Sembari duduk di hadapan saya di sebuah kafe dekat Museum Inggris di London, seorang teman, yang warga Inggris keturunan Irak, baru-baru ini berkata pada saya, “Saya telah hidup di sini sepanjang hidup saya tetapi saya belum juga merasa telah menjadi orang Inggris. ” Kata-katanya membuat saya terkejut, namun juga mengungkapkan kembali perasaan pemuda Inggris generasi kedua lainnya yang pernah saya temui. Banyak anak muda yang berlatar belakang imigran tidak merasa mereka ini adalah benar-benar bagian dari Inggris dan berjuang untuk merekonsiliasikan identitas yang mereka warisi dari orang tua mereka dengan identitas yang mereka jumpai di tempat kerja atau sekolah. Jawaab, sebuah organisasi akar rumput baru, tengah memberi anak muda Pakistan-Inggris berbagai sarana untuk mengintegrasikan kedua identitas dengan menyediakan bagi mereka ruang aman untuk berdialog. Statistik menunjukkan bahwa rata-rata usia...Selengkapnya
Rabu, March 14, 2012 - 14:46
oleh Khaled Diab 09 Maret 2012 Yerusalem – Di Yerusalem Timur, pendudukan Israel telah berdampak pada lanskap budaya kota ini. Sangat kurangnya investasi, permukiman yang meluas dan sebuah tembok kokoh – yang menurut Israel dibangun untuk tujuan keamanan sementara orang Palestina menudingnya sebuah perampasan lahan – telah menyingkirkan pusat Palestina di Yerusalem dan menggeser pusat kebudayaan ke Ramallah di Tepi Barat. Selain itu, tampaknya banyak orang Palestina di Yerusalem tidak bisa melepaskan diri dari mentalitas intifada, yang berakhir hampir tujuh tahun yang lalu. Namun, dalam beberapa tahun belakangan, berbagai upaya telah dibuat untuk membangkitkan kembali dan memperkaya topografi budaya Yerusalem Timur. Yang terbaru adalah dihidupkannya kembali gedung bioskop al-Quds, yang tutup seperempat abad yang lalu sewaktu intifada pertama (yang berlangsung dari 1987 hingga 1993). Kini, meski belum selesai, gedung ini sudah menjadi Yabous Cultural...Selengkapnya
Rabu, March 14, 2012 - 14:44
oleh Aziz Abu Sarah dan Talia Salem 09 Maret 2012 Yerusalem – Shira Nesher, seorang warga Israel, sedang berdiri di samping Fakhira Halloun, seorang warga Palestina, saat Nesher bercerita tentang kehidupan di sebuah zona konflik kepada sekelompok mahasiswa universitas Amerika yang tengah menyimak setiap ucapannya. “Keluarga saya adalah para korban Holocaust yang selamat, dan sebagai seorang warga Israel, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh ketakutan dan konflik. Ketika saya berusia 18 tahun, saya terdaftar di Pasukan Pertahanan Israel, di mana akhirnya saya menjadi seorang pemandu wisata militer dan seorang guru . . . ” Ketika ia selesai, Fakhira melanjutkan dengan ceritanya sendiri. “Saya seorang Kristen Palestina yang berkewarganegaraan Israel. Saya tumbuh besar di sebuah kampung Druze, sebagai minoritas di tengah kelompok-kelompok minoritas, dengan berbagai cerita tentang nakba (pengusiran orang Palestina), di sebuah tempat di mana identitas...Selengkapnya
Rabu, March 14, 2012 - 14:42
oleh Beena Sarwar 09 Maret 2012 Boston, Massachusetts – Komunitas daring Pakistan meluapkan suka cita saat Obaid Chinoy menerima Anugerah Akademi (Academy Award atau piala Oscar) baru-baru ini di Hollywood untuk kategori Film Pendek Dokumenter Terbaik berkat sebuah film yang turut diarahkannya. Sebuah tweet oleh bloger Pakistan, Anthony Permal, menggambarkan perasaan banyak orang Pakistan: “Seorang perempuan dari Pakistan, yang membuat film tentang para perempuan, memenangi Oscar. Berani muka sekali.” Ungkapan ini boleh jadi pelesetan dari judul film Obaid Chinoy, Saving Face (Selamatkan Muka). Namun, beberapa orang mengeluhkan bahwa karena film tersebut menyoroti satu bentuk kekerasan jender yang sangat mengerikan (menggunakan air keras untuk menghajar dan merusak wajah perempuan), film ini pun memberi citra buruk pada Pakistan – dan karenanya negara ini pun justru “kehilangan muka”. Ini pada gilirannya menggambarkan realitas pahit Oscar...Selengkapnya
Selasa, March 6, 2012 - 15:55
oleh Noah J. Silverman 02 Maret 2012 New York, New York - Pada 1924, Norman De Nosaquo, seorang mahasiswa Yahudi di University of Wisconsin, menulis sebuah surat ke redaktur Wisconsin Jewish Chronicledi mana ia mengatakan, “Hanya melalui kelompok-kelompok yang terorganisir [kita bisa] mewujudkan segala yang baik untuk kemajuan pengetahuan orang-orang Yahudi. ” Surat itu ditulis menyusul didirikannya sebuah institusi baru– yang lain dari yang lain – di University of Illinois yang diperuntukkan untuk secara proaktif membantu mahasiswa Yahudi mempertahankan dan memperkuat identitas Yahudi mereka. De Nosaquo meminta para tokoh Yahudi di Wisconsin agar “melancarkan kampanye nasional demi adanya sebuah wadah komunitas bagi para mahasiswa Yahudi” – termasuk di University of Wisconsin. Nama organisasi mahasiswa Yahudi ini adalah Hillel. Kata “Hillel” berasal dari nama seorang tokoh rabbi abad pertama, yang kini dikenal dengan...Selengkapnya

Warning: Duplicate entry '308982' for key 1 query: INSERT INTO crc_watchdog (uid, type, message, variables, severity, link, location, referer, hostname, timestamp) VALUES (0, 'php', '%message in %file on line %line.', 'a:4:{s:6:\"%error\";s:12:\"user warning\";s:8:\"%message\";s:417:\"Table './ceric_fisip_ui_ac_id/crc_accesslog' is marked as crashed and should be repaired\nquery: INSERT INTO crc_accesslog (title, path, url, hostname, uid, sid, timer, timestamp) values('Berita Terbaru | Center for Research on Intergroup Relation and Conflict Resolution', 'news', '', '54.81.195.240', 0, '9344526c5bac9531d98bd3a0e44be823', 255, 1511374947)\";s:5:\"%file\";s:75:\"/home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/modules/statistics/statistics.module\";s:5:\"%line\";i:63;}', 3, '', 'http://ceri in /home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/includes/database.mysql.inc on line 135