Kini sepakbola bisa juga dimainkan para Muslimah

oleh Jens Juul Petersen

23 Maret 2012

Beirut, Lebanon – Para pemain sepakbola Muslimah kini bersuka cita dengan keputusan Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) baru-baru ini yang mengizinkan mereka untuk mencoba memakai jilbab yang dirancang khusus. Keputusan ini akan ditinjau ulang setelah masa ujicoba selama empat bulan. FIFA telah melarang jilbab sejak 2007, namun keputusan baru ini, yang didesak oleh PBB, mudah-mudahan akan membuat lebih banyak lagi perempuan di seluruh dunia untuk ambil bagian dalam permainan ini.

Dalam sebuah pertandingan kualifikasi Olimpiade baru-baru ini, FIFA melarang tim sepakbola perempuan Iran bertanding melawan timnas Yordania karena para pemainnya menolak untuk melepas jilbab mereka. Jilbab, yang menutupi rambut para pemain, melanggar aturan ketat FIFA soal busana, yang telah secara resmi diterapkan untuk berbagai alasan keamanan.

Karena tidak ada laporan tentang luka yang bisa diakibatkan jilbab, dan jilbab juga sudah diizinkan dalam berbagai olahraga lainnya, seperti rugby dan taekwondo, yang lain pun melihat larangan ini sebagai diskriminasi dan sebuah alasan yang tidak berdasar untuk menyisihkan para Muslimah. Di Iran, seorang bekas pelatih tim nasional bahkan mengkhawatirkan kalau larangan ini akan berarti “sepakbola perempuan di Iran akan berhenti.”

Sejak 2007, larangan untuk memakai jilbab dalam kompetisi-kompetisi FIFA telah membuat para perempuan menjauh dari permainan sepakbola di seluruh dunia Muslim. Setelah sebelumnya para perempuan di Iran dan masyarakat Muslim lainnya harus melawan orang tua mereka dan tradisi lokal hanya untuk bermain sepakbola; mereka kini juga harus berhadapan dengan aturan FIFA, lembaga yang semestinya mendukung para pemainnya di seluruh dunia.

Larangan ini memiliki dampak besar pada para pemain perempuan, dan sebuah kampanye untuk mengubah aturan diprakarsai oleh Wakil Presiden FIFA, Pangeran Yordania Ali Bin Al Hussein. Kampanye ini segera mendapatkan perhatian dari para tokoh dan lembaga berpengaruh, seperti Wilfried Lemke, Penasihat Khusus Sekjen PBB bidang Olahraga untuk Pembangunan dan Perdamaian, yang mendesak Presiden FIFA, Sepp Blatter, mencabut larangan demi menjamin kesetaraan hak bagi setiap orang untuk bermain sepakbola dan karenanya selaras dengan moto Presiden FIFA ini: “sepakbola untuk semua, semua untuk sepakbola”.

Pada 4 Maret, hanya beberapa hari jelang hari perempuan internasional, FIFA akhirnya mengikuti nasihat Lemke, Pangeran Ali dan banyak pemain sepakbola Muslimah dari seluruh dunia. Lantaran jilbab yang dirancang khusus, yang dikencangkan dengan peranti pengikat Velcro dan bukannya dengan pin, larangan ini pun dicabut, dan sebuah langkah penting diambil untuk memampukan para perempuan ambil bagian dalam permainan paling populer di dunia ini.

“Kita akan melihat banyak para pemain yang senang gembira kembali turun ke lapangan dan memainkan olahraga yang mereka cintai,” kata Pangeran Ali. Wilfried Lemke menambahkan bahwa setiap orang akan memiliki “kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam sepakbola, tanpa rintangan, apa pun jender, ras, kemampuan, usia, budaya atau keyakinan agamanya.”

Sepakbola kini benar-benar “untuk semua”, dan aturan-aturannya tidak lagi meminggirkan banyak penduduk dunia dari lapangan sepakbola.

Bagi jutaan perempuan di seluruh dunia, menggiring dan menendang di lapangan sepakbola bisa menjadi langkah pertama menuju pelibatan di masyarakat, dan sebuah contoh simbolik perjuangan untuk mendorong kesetaraan jender, mengatasi diskriminasi dan melawan stereotipe. Para pemain sepakbola Muslimah yang mengenakan jilbab menunjukkan bahwa jilbab bukanlah halangan untuk ikut serta dan menjadi yang terbaik dalam kehidupan dan olahraga.

Di Lebanon misalnya, Cross Cultures Project Association telah mendorong sepakbola di tingkat akar rumput untuk anak laki-laki dan perempuan selama beberapa tahun. Para pelatih relawan untuk program ini telah berhasil menarik banyak perempuan ke sepakbola – termasuk mereka yang mengenakan jilbab.

Ini penting tidak saja bagi para peserta tetapi juga seluruh masyarakat. Salah satu relawan perempuan mengatakan, “Saya ingin mengubah kesan bahwa perempuan berjilbab tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di rumah [dan] berdiam diri. Dengan berolahraga kita bisa mengubah ini dan mengekspresikan diri kita!”

Lapangan sepakbola hanyalah langkah pertama bagi perempuan dan bisa berimplikasi positif pada kepeloporan mereka di bidang-bidang lain. Seperti dikatakan seorang pemain sepakbola perempuan di Lebanon pernah katakan pada saya: “Pertama kita masuk lapangan bola, nanti kita masuk parlemen.”

###

* Jens Juul Petersen ialah orang Denmark yang menjadi Kordinator Program Cross Cultures Project Association (CCPA) Lebanon.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 23 Maret 2012, www.commongroundnews.org. Telah memperoleh izin publikasi.


Warning: Duplicate entry '308982' for key 1 query: INSERT INTO crc_watchdog (uid, type, message, variables, severity, link, location, referer, hostname, timestamp) VALUES (0, 'php', '%message in %file on line %line.', 'a:4:{s:6:\"%error\";s:12:\"user warning\";s:8:\"%message\";s:454:\"Table './ceric_fisip_ui_ac_id/crc_accesslog' is marked as crashed and should be repaired\nquery: INSERT INTO crc_accesslog (title, path, url, hostname, uid, sid, timer, timestamp) values('Kini sepakbola bisa juga dimainkan para Muslimah | Center for Research on Intergroup Relation and Conflict Resolution', 'node/714', '', '54.156.93.60', 0, '9a1dbcb7dab74607de6d28a18a537afc', 207, 1506436484)\";s:5:\"%file\";s:75:\"/home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/modules/statistics/statistics.module\";s:5:\"%line\";i:63;}' in /home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/includes/database.mysql.inc on line 135