Berbalik dari “opsi” militer ke diplomasi

oleh Barbara Slavin

23 Maret 2012

Washington, AS – Setelah beberapa bulan terjadi saling adu gertak perang antara Iran, Israel dan Amerika Serikat, tampaknya mulai ada rihat bersamayang menggembirakan.

Sejak Presiden Barack Obama berpidato di hadapan Komite Urusan Publik Amerika Israel (AIPAC) pada 4 Maret lalu, semua pihak telah menekankan cara-cara non-militer untuk mencoba menyelesaikan krisis soal program nuklir Iran.

Kendati menegaskan bahwa ia bertekad mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, dalam pidatonya Obama banyak mengecam apa yang ia sebut “omongan sembrono” tentang perang. Ia bicara secara fasih tentang ongkos yang harus dibayar untuk konflik militer oleh sebuah negara yang telah melancarkan dua perang dalam sepuluh tahun terakhir.

Pesannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah berkunjung cukup jelas: saya tidak akan memulai perang lain dan Anda tidak bisa menyeret saya ke satu perang lagi.

Netanyahu sendiri tampak tunduk pada beberapa kenyataan.

Sebagai politisi cerdas, ia menghitung kembali peluang Obama untuk kembali terpilih sebagai presiden untuk empat tahun lagi. Pemimpin Israel ini juga tahu bahwa sebagian besar lembaga pertahanan dan intelijen Israel – serta mayoritas rakyat Israel – menentang serangan unilateral ke Iran yang justru bisa memicu pembalasan besar-besaran tanpa bisa menyurutkan program nuklir Iran. Mantan kepala Mossad, Meir Dagan, menyebut serangan semacam itu “bodoh”. Obama berpendapat bahwa sanksi-sanksi ekonomi berdampak besar pada perekonomian Iran dan semestinya bisa memberi waktu lebih banyak lagi untuk berupaya.

Bukti-bukti menunjukkan hal ini.

Sanksi perbankan AS dan ancaman embargo minyak Eropa telah mengurangi separo nilai mata uang Iran, meningkatkan inflasi dan pengangguran dan menekan produksi minyak. Badan Energi Internasional pekan lalu melaporkan bahwa Iran hanya memompa 3,3 juta barel per hari – turun dari 3,8 juta barel tahun lalu – dan ekspor minyak Iran boleh jadi turun hingga 50 persen pertengahan tahun ini.

Meski menyangkal bahwa sanksi-sanksi ini adalah penyebabnya, para pemimpin Iran telah setuju untuk kembali ke perundingan dengan P5+1 – lima anggota tetap DK PBB plus Jerman. Berbagai pembicaraan – yang pertama sejak Januari 2011 – diharapkan berlangsung setelah awal tahun baru Persia (Nowruz) pekan ini.

Sebelumnya, Iran pun telah melakukan tebar pesona. Pemimpin Tinggi Ayatullah Ali Khamenei pada 8 Maret lalu kembali menegaskan sebuah fatwa pada 1995 bahwa membangun senjata nuklir adalah sebuah “dosa besar”. Ia juga memuji Obama karena mengkritik pembicaraan tentang perang. “Komentar semacam itu bagus dan menunjukkan suatu langkah keluar dari khayalan,” kata Khamenei.

Pada 15 Maret, Mohammad Javad Larijani, seorang fisikawan jebolan AS dan penasihat Khamenei, mengatakan kepada wartawan CNN, Christiane Amanpour, bahwa Iran akan memberikan “transparansi penuh” untuk program nuklirnya sebagai imbalan diterimanya hak Irak untuk memiliki energi nuklir damai di bawah Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Larijani juga menyangkal bahwa Iran memiliki niat menyerang Israel, dan mengatakan bahwa Iran akan mempertahankan diri bila diserang tetapi tidak akan menyerang negara lain duluan.

Orang Iran pun telah mengisyaratkan kemauan mereka untukberdialog dengan Amerika Serikat dalam cara-cara lain.

Pada 5 Maret, Mahkamah Agung Iran memerintahkan pengadilan ulang bagi seorang bekas marinir AS keturunan Iran yang telah dijatuhi hukuman mati sebagai seorang mata-mata CIA.

Pada 13 Maret, AS mendeportasi seorang pedagang senjata Iran yang ditangkap pada 2007 dalam suatu operasi khusus di Republik Georgia.

Langkah-langkah ini bersama-sama memperbaiki suasana yang diperlukan untuk adanya perundingan. Namun, tetap tidak jelas apakah pemerintahan Obama dan mitra-mitranya akan mengajukan proposal yang bisa mengurangi ketegangan tanpa membuat Iran kehilangan muka.

Di antara elemen kuncinya adalah penghentian pengayaan uranium yang dilakukan Iran sampai 5 persen U-235, penghentian pengayaan di sebuah fasilitas dekat Qom, dan pemberian akses kepada Badan Energi Atom Internasional ke tempat-tempat dan para ilmuwan yang diduga keras melakukan penelitian senjata nuklir.

Sebagai gantinya, Iran akan menuntut pengakuan pengayaan uranium yang terbatas dan pencabutan atau penangguhan beberapa sanksi.

Apakah Obama – di tengah kampanye pemilu – bisa berkompromi dengan sebuah negara yang telah menjadi musuh AS selama 33 tahun, akan menjadi ujian kemauannya untuk mendahulukan kepentingan nasional ketimbang keuntungan politik.

Iran pada gilirannya akan harus menghargai komitmen-komitmennya jika Iran berharap mengurangi tekanan ekonomi dan mencapai posisi yang diharapkannya sebagai sebuah kekuatan yang disegani di kawasan dan komunitas internasional.

###

* Barbara Slavin ialah seorang peneliti senior Atlantic Council, koresponden Washington untuk Al-Monitor.com dan pengarang Bitter Friends, Bosom Enemies: Iran, the U.S, and the Twisted Path to Confrontation (2007).

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 23 Maret 2012, www.commongroundnews.org. Telah memperoleh izin publikasi.


Warning: Duplicate entry '308982' for key 1 query: INSERT INTO crc_watchdog (uid, type, message, variables, severity, link, location, referer, hostname, timestamp) VALUES (0, 'php', '%message in %file on line %line.', 'a:4:{s:6:\"%error\";s:12:\"user warning\";s:8:\"%message\";s:451:\"Table './ceric_fisip_ui_ac_id/crc_accesslog' is marked as crashed and should be repaired\nquery: INSERT INTO crc_accesslog (title, path, url, hostname, uid, sid, timer, timestamp) values('Berbalik dari “opsi” militer ke diplomasi | Center for Research on Intergroup Relation and Conflict Resolution', 'node/712', '', '54.156.93.60', 0, 'c73e274d82750dd152ef4c809ae262b9', 180, 1506436469)\";s:5:\"%file\";s:75:\"/home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/modules/statistics/statistics.module\";s:5:\"%line\";i:63;}', in /home/ceric-fisip.ui.ac.id/public_html/includes/database.mysql.inc on line 135